Jumat, 05 September 2014

Memahami aku, sebagai seorang konsumen..

Ayuning Tyas
I24130071
Mahasiswi Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen
Fakultas Ekologi Manusia IPB

Kuliah Perilaku Konsumen IKK233
Rabu, 3 September 2014

Department of Family and Consumer Sciences
College of Human Ecology
Bogor Agricultural University IPB

Dosen : Dr Ir Lilik Noor Yuliani, MFSA
Buku referensi :
Ujang Sumarwan. 2011. Perilaku Konsumen: Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran. Edisi 2 Cetakan 1. Jakarta: PT Ghalia Indonesia


Kuliah Pertama
Konsumen?
Rabu, 3 September 2014. Peretemuan pertama kami di kelas ibu Lilik Noor Yulianti. Beliau adalah salah satu pengajar dalam mata kuliah Perilaku Konsumen. Meskipun beliau mendeklarasikan bahwa dirinya tak mampu melucu sebagaimana dosen lain, namun seolah menapik deklarasi beliau, ruang kelas beberapa kali dibuat riuh oleh gema tawa mahasiswa-mahasiswinya.
Konsumen? Satu kata dengan tanda tanya menyertainya. Sederhana, biasa, namun ternyata mengandung banyak makna, menarik mahasiswa untuk menggali pengetahuan dari otaknya. Konsumen, orang yang mengambil keputusan akan sebuah transaksi. Seorang pembeli, seorang pelanggan dan lain sebagainya. Sebagai seorang konsumen, ternyata kadangkala kita masih bingung mengungkapkan siapa itu konsumen, bagaimana ia mengambil keputusan akan peilihan yang dihadapkan padanya, bagaimana perilakunya dalam memanfaatkan barang dan jasa yang ditawarkan kepadanya, padahal menanyakan hal-hal ini adalah sebenarnya kita menanyakannya pada diri kita sendiri.
Hal inilah yang kemudian menjadikan perilaku konsumen perlu untuk kita pelajari. Agar kita mengetahui faktor-faktor atau motivasi seperti apakah yang mempengaruhi sikap kita sebagai seorang konsumen. Bagaimana kemudian kita mengambil sebuah keputusan, bagaimana kita mengonsumsi barang ataupun jasa yang kita dapatkan dan bagaimana kita akhirnya mengevaluasi keputusan yang kita ambil. Namun selain menempatkan diri sebagai seorang konsumen, mata kuliah ini juga penting bagi kita yang ingin merangkap peran sebagai seorang produsen. Agar bisa mengetahui strategi yang tepat untuk memberdayakan para konsumen. Memahami pola perilaku konsumen akan konsumsi mereka dan bagaimana mereka memperlakukan sisa atau bagian yang tidak bisa mereka konsumsi.

Mata kuliah ini tidak hanya mengajak kita untuk menjadi konsumen cerdas namun juga produsen yang memahami pola perilaku konsumennya.

Minggu, 29 Juni 2014

Sepele sih, tapii..

Pinjem sendal itu hal biasa memang. Biasa aja, kalo kedua pihak yang dipinjemin dan yang minjemin sama-sama tau keberadaan barang terkait. Nah kalo salah satunya aja yang tau? Aku bahkan ngga tau kalo ini bisa disebut “minjem”. Kemarin ceritanya sendal aku abis “dipinjem” saudari. Saudari, iya saudari. Secara kitakan satu akidah, meskipun sejatinya aku ‘mungkin’ tau dia, dia ‘mungkin’ tau aku dan kita ‘mungkin’ saling tau. Sekali lagi aku katakan, ini memang hal sepele, urusan sendal doang. Tapiii.... nah? Ada tapinya?
Semasa SMA, aku salah satu siswi yang memilih tinggal diasrama, mungkin sekitar dua setengah tahunan. Selama disana, urusan sendal memang menjadi barang sensitif kalo ditinggal sembarangan. Depan asrama, kantin sekolah pun masjid yang jadi tempat ibadah bukan tempat aman untuk ninggalin sendal, kalo kita sayang atau masih pengen bareng-bareng sama sendal kita untuk waktu yang lama, amankan! Tak sekali-dua sendal didepan asrama, depan kantin atau depan masjid bisa pulang duluan, iya kalo pulangnya ke alamat yang bener lah itu pulangnya ke asrama lain-seringnya sih asrama cowok- dan ditemukan dalam keadaan mengenaskan-beda pasangan-. Ckckck..
Aku dulu juga salah satu yang tak peduli akan masalah sepele ini. Tapi terus aku mulai mikir, apa kita tau.. mungkin saja diluar sana, ada seseorang yang bertelanjang kaki-berkaus kaki bagi yang akhwat- menapaki jalanan berduri karena alas kakinya bertengger dikaki ini! astaghfirullah.. berkah ngga sih langkah kaki ini? melangkah ke tempat baik saja belum tentu, apalagi cuma kemana yang mungkin banyakkan mudhorotnya..
Nah kalau sendal kita yang dipake? Lantas apa ini jadi pembenaran bagi kita untuk pake sendal orang yang lain juga? Tentu tidak! Coba bayangin, kalo sendal kita dipake orang lain terus pas kita mau keluar, karena gak ada sendal kita, jadi kita pake sendal orang lain juga, terus orang yang punya sendal yang kita pake mau keluar, karena sendalnya ngga ada jadi dia memutuskan untuk pake sendal orang yang lainnya lagi, terus orang yang lainnya lagi ini mau keluar juga dan karena sendalnya ngga ada jadi dia pake sendal orang yang lain lainnya-sengaja dua kali menunjukkan betapa lainnya dia- lagi. Ada rantai ‘peminjaman’ yang tidak jelas disana dan hal semacam ini mungkin saja terjadi. Itu kita baru ada di konsumen tingkat trofik II- iya bukan ya? Cmiiw-lah- apalagi kalo kita ada di tingkat trofik satu, istilah kerennya tuh, biang keroknya. Tapi tak peduli tingkat trofik satu atau dua atau seterusnya, sama aja, sama-sama manjangin tali kelambu, yang mengusutnya perlu banyak waktu. Mungkin hanya kaki yang rela melangkah bertelanjang tanpa alas kaki yang mampu mengehentikannya.. lalu bagaimana nasib perela ini? kalo dia ngga ikhlas.. kira-kira dosanya berantai juga ngga ya kayak rantai ‘peminjamannya’? wallahu ‘alam..
Mendapati sendal kita ketinggalan dikamar sedangkan kita sudah ada didepan dan tinggal keluar itu memang bikin kesel. Apalagi kalo kita sudah didepan dan tinggal keluar terus mendapati sendal kita ‘dipinjem’ entah kemana itu keselnya jadi kesel kuadrat.. apalagi, kebanyakan yang ‘minjem’ itu sebenernya ngga tau itu kepunyaan siapa, dan sayangnya dia memilih ngga peduli itu punya siapa.. bahkan ketika kita tau itu sendal punya siapapun, kita tetep harus ngomong supaya bisa disebut minjem. Kalo nggak ngomong? Peminjaman itu cuma berlaku disatu pihak, cuma kita yang nganggep itu minjem, pihak sana? Siapa yang tau? Mungkin.. mungkin dia anggep itu ‘minjem’ atau bisa jadi dia anggep itu ilang. Nah kalo dia anggep itu sendalnya dia ilang? Terus kita pihak peminjam gelap ini disebut apa? Bukan maling kan ya? Atau iya? Serem ah..
Makanya sobat semuanya.. ayolah, apa susahnya sih balik lagi buat ambil sendal kalo tu sendal memang ketinggalan di kamar sekalipun kamar kita ada dilantai 12. Kalo emang males, pinjem boleh asal pastikan kita tau persis sendal siapa yang akan kita pinjem dan jangan lupa ngomong ke yang punya, sms ke yang punya. Lupa bawa handphone? Pinjem ke temen terdekat yang punya nomornya. Kamu yang ngga punya nomornya? Katanya kenal orangnya?. Kalo sendal kita yang dipake peminjam gelap, yaa.. masak cuma itu satu-satunya alas kaki kamu? Atau bisa pinjem dulu dengan syarat-syarat peminjeman yang jelas tadi. Bentar doang kok... aduh sob, seburu-burunya kamu, sesingkat-singkatnya kamu mau keluar pake tu sendal, kamu ngga tau apa yang akan dan bisa terjadi dalam singkatnya waktu ketika kamu pake sendal itu. Se-urgent-urgentnya urusan kamu, kamu ngga tau apakah urusan kamu itu lebih urgent daripada yang punya sendal.
Kalo kamu penah jadi salah satu korban, kamu tentunya ngerti banget gimana rasanya dan gregetnya kamu ke si peminjam gelap. Tapi kalo kamu belum pernah jadi korban.. apa jangan-jangan kamu tersangkanya? Upsss.. kidding! J