Sabtu, 01 November 2014

Menjadi Manusia Paling Cerdas...

Sudahkah kita mengingat mati?
Mungkin sebagian besar dari kita sudah sering atau bahkan selalu mengingat mati. Namun sudahkah kita beribadah seolah-olah ini adalah hari terakhir kita? Sudahkah kita beribadah seolah ini adalah ibadah terakhir kita? Kurasa belum. Mungkin kita ingat bagaimana ketika kita sangat kelelahan atau lazimnya kita sebut tepar, bangun disepertiga malam menjadi begitu sulit dilakukan. Sehingga ketika kita membuka mata, hati kecil berbisik, “udah, ngga apa-apa ngga sholat tahajud sekali, besok kan masih bisa.” (ini hati kecil atau setan ya yang berbisik?).  itulah permasalahan yang tengah kita hadapi, terutama Aku. Atau mungkin hanya Aku? Baiklah, anggap saja ini adalah curhatanku.
Saat ini, Aku selalu terlalu yakin akan adanya hari esok. Aku sudah lebih dulu sok tau kalau Aku masih bisa melakukannya esok hari. Aku terlalu yakin bahwa Aku akan tetap hidup hingga esok. Sehingga tak jarang, waktu sholat kuulur sedemikian rupa. Kesempatan tahajud hilang begitu saja. Waktu Dhuha dengan mudahnya kutunda-tunda hingga bahkan hanya azan dhuzur yang menyadarkanku. Tilawah Qur’an selalu berada di nomor urut dua, tiga atau bahkan seterusnya sehingga Aku lupa belum memenuhi target tilawah hari ini atau malah bahkan memulainyapun belum. Dan kemudian, dengan santainya berkata, “besok aja deh, sekalian dua juz, besok kan libur juga.” Nyatanya, besok yang libur itu dipenuhi dengan tugas, tugas dakwah, tugas kuliah, semua mengantri setia menanti gilirannya. Semua serba nanti, nanti atau besok, besok. Semuanya diulur, ditunda. Seandainya kata tunda itu tak pernah ada. Mungkin dia akan benar-benar tidak ada, atau hanya menjadi sebuah kata lain yang bermakna sama. Maka aku selalu berharap untuk tidak berkenalan dengannya. Namun kini, nampaknya sudah terlambat, kami sudah menjadi teman dekat, atau bahkan bersahabat.
               Karena itu, saat masih ada kata tunda, kata nanti, kata besok saja dalam kamus kebaikanku. Aku tak mengerti bagaimana bisa kukatakan aku sudah mengingat mati?
Namun kurasa sekarang aku sudah mengerti. Ini bukan hanya tentang adanya keyakinan yang teramat bahwa esok aku akan tetap hidup. Bukan lagi hanya tentang kesoktauanku tentang adanya hari esok itu. Tapi ini juga karena aku sudah mengingat mati. Karena aku sudah berkenalan dengan siapa itu kematian. Kematian itu sangat dekat, dia pasti akan datang. Pasti. Tapi nanti. Iya, aku memang sudah mengingat mati. Tetapi itu adalah kematian yang indah, kematian di usia tua, saat aku sudah menjadi seorang nenek yang telah merasakan kebahagiaan memiliki cucu-cucu. Kematian yang aku kenal adalah kematian di masa depan yang masih panjang, jauh bertahun lagi. Kematian dimana Aku sudah menggapai mimpi dan merangkai jejak takdir Ilahi. Kematian seperti yang aku inginkan, dan mungkin bukan seperti yang Ia tetapkan. Padahal, kinipun aku tak tau. Apakah masa depan yang seperti aku bayangkan itu benar-benar ada didepan sana? Apakah aku akan benar-benar bertemu dengan masa depan seperti itu? Apakah aku akan sempat mengenalnya walau sejenak? Aku bahkan tak pernah tau.



أَفْضَلُ المُؤْمِنِينَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَ أَكْيَسُهُمْ أَكْثَرُهُم لِلمَوتِ ذِكْرًا وَ أَحْسَنُهُم لَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ
“Orang mukmin yang paling utama adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang mukmin yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling bagus persiapannya untuk menghadapi kematian. Mereka semua adalah orang-orang cerdas (yang sesungguhnya, pent).” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dinyatakan SHOHIH oleh syaikh Al-Albani rahimahullah di dalam Irwa’ul Gholiil no.682. Sedangkan di dalam Silsilatu Al-Ahaadiits Ash-Shohihah no.1384 beliau menilai hadits ini derajatnya HASAN dengan semua jalan periwayatannya).
Sehingga, wahai kematian. Meski di hadapanku itu sudah dikatakan dekat. Melangkahlah lebih dekat lagi. Tutupi mataku dengan kedua belah tanganmu. Dengan begitu, setiap kali aku membuka mataku. Kau akan menjadi yang pertama aku lihat, sebagai pintu yang kuncinya ada ditangan kekasih hatiku. Dimana Dia selalu menatapku dari balik pintu itu. Sehingga apapun yang aku lakukan di muka bumi ini tak hanya akan sekadar karena dunia semata. Kau akan selalu mengambil alih alasanku melakukannya. Dan ketika kekasih hatiku akan membuka pintu itu, entah itu beberapa detik atau menit lagi, atau bahkan saat ini. aku selalu siap bertemu dengan-Nya dan mempertanggung jawabkan semua jejak yang pernah aku buat didunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar