Sudahkah
kita mengingat mati?
Mungkin sebagian besar dari kita sudah sering
atau bahkan selalu mengingat mati. Namun sudahkah kita beribadah seolah-olah
ini adalah hari terakhir kita? Sudahkah kita beribadah seolah ini adalah ibadah
terakhir kita? Kurasa belum. Mungkin kita ingat bagaimana ketika kita sangat
kelelahan atau lazimnya kita sebut tepar, bangun disepertiga malam menjadi
begitu sulit dilakukan. Sehingga ketika kita membuka mata, hati kecil berbisik,
“udah, ngga apa-apa ngga sholat tahajud sekali, besok kan masih bisa.” (ini
hati kecil atau setan ya yang berbisik?).
itulah permasalahan yang tengah kita hadapi, terutama Aku. Atau mungkin
hanya Aku? Baiklah, anggap saja ini adalah curhatanku.
Saat ini, Aku selalu terlalu yakin akan adanya
hari esok. Aku sudah lebih dulu sok tau kalau Aku masih bisa melakukannya esok
hari. Aku terlalu yakin bahwa Aku akan tetap hidup hingga esok. Sehingga tak
jarang, waktu sholat kuulur sedemikian rupa. Kesempatan tahajud hilang begitu
saja. Waktu Dhuha dengan mudahnya kutunda-tunda hingga bahkan hanya azan dhuzur
yang menyadarkanku. Tilawah Qur’an selalu berada di nomor urut dua, tiga atau
bahkan seterusnya sehingga Aku lupa belum memenuhi target tilawah hari ini atau
malah bahkan memulainyapun belum. Dan kemudian, dengan santainya berkata,
“besok aja deh, sekalian dua juz, besok kan libur juga.” Nyatanya, besok yang
libur itu dipenuhi dengan tugas, tugas dakwah, tugas kuliah, semua mengantri
setia menanti gilirannya. Semua serba nanti, nanti atau besok, besok. Semuanya
diulur, ditunda. Seandainya kata tunda itu tak pernah ada. Mungkin dia akan
benar-benar tidak ada, atau hanya menjadi sebuah kata lain yang bermakna sama.
Maka aku selalu berharap untuk tidak berkenalan dengannya. Namun kini,
nampaknya sudah terlambat, kami sudah menjadi teman dekat, atau bahkan
bersahabat.
Karena itu, saat masih ada kata
tunda, kata nanti, kata besok saja dalam kamus kebaikanku. Aku tak mengerti
bagaimana bisa kukatakan aku sudah mengingat mati?
Namun kurasa sekarang aku sudah mengerti. Ini
bukan hanya tentang adanya keyakinan yang teramat bahwa esok aku akan tetap
hidup. Bukan lagi hanya tentang kesoktauanku tentang adanya hari esok itu. Tapi
ini juga karena aku sudah mengingat mati. Karena aku sudah berkenalan dengan
siapa itu kematian. Kematian itu sangat dekat, dia pasti akan datang. Pasti.
Tapi nanti. Iya, aku memang sudah mengingat mati. Tetapi itu adalah kematian
yang indah, kematian di usia tua, saat aku sudah menjadi seorang nenek yang
telah merasakan kebahagiaan memiliki cucu-cucu. Kematian yang aku kenal adalah
kematian di masa depan yang masih panjang, jauh bertahun lagi. Kematian dimana
Aku sudah menggapai mimpi dan merangkai jejak takdir Ilahi. Kematian seperti
yang aku inginkan, dan mungkin bukan seperti yang Ia tetapkan. Padahal, kinipun
aku tak tau. Apakah masa depan yang seperti aku bayangkan itu benar-benar ada
didepan sana? Apakah aku akan benar-benar bertemu dengan masa depan seperti
itu? Apakah aku akan sempat mengenalnya walau sejenak? Aku bahkan tak pernah
tau.
أَفْضَلُ المُؤْمِنِينَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَ أَكْيَسُهُمْ أَكْثَرُهُم لِلمَوتِ ذِكْرًا وَ أَحْسَنُهُم لَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ
“Orang mukmin yang paling utama adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang mukmin yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling bagus persiapannya untuk menghadapi kematian. Mereka semua adalah orang-orang cerdas (yang sesungguhnya, pent).” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dinyatakan SHOHIH oleh syaikh Al-Albani rahimahullah di dalam Irwa’ul Gholiil no.682. Sedangkan di dalam Silsilatu Al-Ahaadiits Ash-Shohihah no.1384 beliau menilai hadits ini derajatnya HASAN dengan semua jalan periwayatannya).
Sehingga,
wahai kematian. Meski di hadapanku itu sudah dikatakan dekat. Melangkahlah
lebih dekat lagi. Tutupi mataku dengan kedua belah tanganmu. Dengan begitu,
setiap kali aku membuka mataku. Kau akan menjadi yang pertama aku lihat,
sebagai pintu yang kuncinya ada ditangan kekasih hatiku. Dimana Dia selalu
menatapku dari balik pintu itu. Sehingga apapun yang aku lakukan di muka bumi
ini tak hanya akan sekadar karena dunia semata. Kau akan selalu mengambil alih
alasanku melakukannya. Dan ketika kekasih hatiku akan membuka pintu itu, entah
itu beberapa detik atau menit lagi, atau bahkan saat ini. aku selalu siap
bertemu dengan-Nya dan mempertanggung jawabkan semua jejak yang pernah aku buat
didunia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar